RSS

SELAMATKAN DUNIA DENGAN SENYUMAN

Oleh : Indra Nurul Hayat, S.Pd.I

 8

“Tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang”, tersenyum[1] adalah tertawa hanya terlihat pada mulut saja tanpa suara atau tawa kecil, jadi tak ada perbedaan antara senyuman dan tertawa kecuali dalam prakteknya. saya datang membawa senyuman karna saya merasa semua sudah paham dengan tersenyum tetapi belum banyak paham bahwa salah satu rahasia menaklukkan hati itu dengan senyuman, dan saya mengajak semua untuk Selamatkan Dunia Dengan Senyuman, tak perlu ada pertanyaan “Bagaimanakah kau menyelamatkan Duniamu ?” jawaban hati anda pasti akan menjawab dengan “Senyuman”, baru anda yang bertanya “why” ? dan sekarang aku akan menjawab seperti dibawah ini.

Tanamlah senyuman di jagat ini

Jangan engkau cemari kebaikan dengan kemurungan dan kesedihan

Jadilah engkau duta pembawa kebahagiaan di jagat ini

Jadilah engkau pembawa senyuman seperti Rasulullah

Senyuman sungguh menyenangkan

Senyuman merupakan sunahnya

Dengan senyuman, pahala dapat terkumpul

 

Sejelek-jelek dan serendah-rendah perilaku adalah sikap murung[2].

Apabila kamu menginginkan agar banyak orang yang mencintaimu tanpa pamrih, maka sebarkanlah senyuman kepada mereka dengan muka penuh ceria. Insya Allah, mereka akan mencintaimu. Sambutlah mereka semua dengan senyumanmu, maka mereka akan lembut dan ramah terhadapmu karena senyuman adalah kunci untuk membuka hati seseorang.

Senyuman adalah gerak mulut tanpa suara, yang biasanya menunjukan adanya rasa gembira dan bahagia. Allah SWT berfirman,

“Maka Dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(QS An-Naml (27):19) [3].

Senyuman sangat disukai Rasulullah SAW. Dari jarir bin Abdullah Al-Bajali ra, ia berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah melihatku kecuali selalu menyertainya dengan senyuman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain disukai oleh Rasulullah, senyuman merupakan salah satu wasiat Rasulullah SAW kepada manusia sehingga beliau mengangkat derajat senyuman sabagai sebuah sedekah. Abu Dzar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, Senyuman pada saudaramu merupakan (sebuah) sedekah.” (HR Tirmidzi)[4].

Senyuman, mari kita perbanyak tetapi tertawa harus kita sedikitkan, karena senyuman berbeda dengan tertawa, terlalu banyak tertawa adalah tercela dan akan menghilangkan kewibawaan dan harga diri, bahkan dapat mematikan hati. Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Dan sedikitlah tertawa, karena terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR Tirmidzi).

Umar bin Khatthab ra[5] berkata, “Barangsiapa yang banyak tertawa, sedikitlah kemuliaannya, dan barangsiapa yang banyak melakukan sesuatu, ia akan dikenal dengannya.”

“Sesungguhnya membiasakan diri dengan terlalu banyak tertawa dapat menyimpangkan dari perkara-perkara yang penting. Tertawa dapat menghilangkan kesadaran akan bencana dan kedudukan. Orang yang melakukan bukanlah orang yang mulia dan berwibawa dan juga bukan orang yang sadar akan bahaya serta kemuliaan diri.” Perkataan dari Al-Mawardi rahimahullah.

Al-Zujaj rahimahullah dan Umar bin khatthab ra berkata, Tersenyum adalah senda gurau.”  Senyuman memiliki kekuatan hebat sehingga mampu memengaruhi seseorang dan merupakan amalan yang sering dilakukan oleh para Nabi.

Tersenyum dapat bermanfaat untuk meraih hati dan simpati, memperbanyak kebaikan serta menghapus keburukan. Selain itu, tersenyum mempunyai manfaat yang lebih dari semuanya, karena sebagai pembentuk karakter, pendorong rasa gembira, melahirkan sikap lapang dada, dan dapat mendorong seseorang untuk dapat meraih kebahagiaan hidup.

Didalam bukunya yang berjudul al-Bukhala, Al-Jahid berkata “Dan bagaimana mungkin senyuman tidak menjadi pembangkit rasa bahagia? Sesungguhnya, hidup ini membutuhkan senyuman. Dengan senyumlah manusia tercipta. Bukankah senyuman merupakan hal pertama yang dapat kita lihat dari seorang bayi ? Dengan tersenyum, jiwa seorang bayi akan semakin baik sehingga ia dapat bertumbuh dengan baik. Darah yang mengalir dalam tubuhnya menyebarkan rasa bahagia yang dijadikan sebagai sumber kekuatan hidupnya. [6]

Ahmad Amin juga pernah berkata di dalam bukunya yang berjudul Faidh al-Katsir, “orang-orang yang dalam hidupnya mampu tersenyum, bukan hanya dapat meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri saja, melainkan lebih dari itu, mereka juga mampu bekerja lebih baik serta lebih siap mengemban tanggung jawab, lebih tegar menghadapi berbagai kesulitan, terampil menangani berbagai kesukaran, serta sangat siap mengerjakan berbagai urusan besar yang sangat bermanfaat bagi mereka dan semua manusia. [7]

Seorang istri yang cantik, apalah artinya jika ia selalu bermurum durja, sehingga merubah rumahnya laksana neraka jahanam ? jauh lebih baik darinya, seorang istri yang tidak terlalu cantik, tetapi dapat menjadikan rumahnya laksana surga. Senyuman yang lahir dari hati yang penuh keridhaan mampu menyulap kehidupan menjadi penuh keceriaan. Sebaliknya, senyuman yang tampak hanya menghiasi bibir saja, tidak lahir dari ketulusan hati, sesungguhnya senyuman itu tidak bernilai apa-apa. Bisa jadi, senyuman itu merupakan cerminan jiwa yang tertekan hingga tekanannya mampu menembus hati saudara dan sahabat yang berada di sekitarnya. Bukan rasa cinta yang terasa, melainkan kesedihan, ketidakberdayaan, dan kesedihan mendalam.       

Tersenyumlah, karena seekor merpati kehitam-hitaman telah lama tertidur.

Pada wajahmu yang ceria, telah tampak fajar yang menyinari gelapnya pagi.

Tersenyumlah dan tambahlah bekal kita yang sedikit untuk perjalanan kita.

Senyuman adalah sebaik-baik perbekalan bagi para musafir.

Telah lama rasa cinta antara aku dan engkau terputus.

Padahal, kita adalah dua orang yang bertetangga.

Sungguh aneh karena tak kutemukan hal mengagumkan pada dirimu.

Padahal sepanjang hari aku menunggumu dengan penuh kesabaran

dan mendambakan kesuksesan.[8]

[1] S. Wojowasito, Kamus Bahasa Indonesia EYD Menurut Pedoman Lembaga Bahasa Nasional, (C.V. Pengarang). Hal. 371.

[2] Abu Abdullah al-Habsyidi, Adakah Cinta di Hatimu ? Metode Terbaik Untuk Meraih hati, Bandung : MQ Publishing, 2007. Hal. 19.

[3] Departemen Agama, Al Qur’an dan Terjemahnya Juz 1 – Juz 30, (Semarang: Kumudasmoro Grafindo, 1994).

[4] Balai Litbang LPTQ Nasional, Seratus Hadits Tarjamah Lafdziyah, Yogyakarta : Team Tadarus “AMM” , 1995. Hal. 49.

[5] Sahabat utama nabi Muhammad saw dan salah satu khulafa al-Rasyidin.

[6] Abu Abdullah al-Habsyidi, Adakah Cinta di Hatimu ? Metode Terbaik Untuk Meraih hati, Bandung : MQ Publishing, 2007. Hal. 22-23.

[7] Abu Abdullah al-Habsyidi, Adakah Cinta di Hatimu ? Metode Terbaik Untuk Meraih hati, Bandung : MQ Publishing, 2007. Hal. 23.

[8] Abu Abdullah al-Habsyidi, Adakah Cinta di Hatimu ? Metode Terbaik Untuk Meraih hati, Bandung : MQ Publishing, 2007. Hal. 22.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 29, 2014 in Uncategorized

 

“KONSEP GURU IDEAL MENURUT SYAIKH AL-ZARNÛJÎ DAN RELEVANSINYA DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN”

 

  1. A.  PENDAHULUAN

Guru memang semestinya dipilih dari sekian banyak orang yang mencalonkan diri, dan diambil yang memenuhi syarat. Inilah guru yang mulia dan pantas sebagai pewaris Nabi. Ditinjau dari tugasnya, seorang guru bukanlah sebatas penyampai mata pelajaran ke sana kemari, dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Semestinya kita harus jujur, jika bangsa Indonesia yang saat ini belum bangkit, dan bahkan justru bertambah bebannya adalah sebagai akibat dari mempercayakan guru kepada orang-orang yang bukan semestinya. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru. Sebagai contoh sederhana, kita harus pahami bahwa jika siswa tidak pintar ilmu fiqih, bukan kemudian hanya menyalahkan para siswanya sulit diajari ilmu fiqih, atau referensi yang kurang lengkap, tetapi hal itu disebabkan, salah dalam memilih guru, karena dia bukan bidangnya[1].

Adapun kendala utama pada seorang guru dilapangan adalah mentalnya yang belum siap untuk dijadikan suri tauladan karena masih banyak guru yang korupsi, tidak hanya materil yang dikorupsi tetapi waktu juga menjadi korban korupsinya. Selain itu, problematika yang sekarang dihadapkan kepada guru yaitu masih banyak guru yang kurang profesional dan tentunya belum dapat dijadikan guru yang ideal karena tidak memenuhi syarat sebagai seorang guru yang diharapkan dan Syaikh Al Zarnuji adalah pengarang kitab Ta’lim Muta’allim, sebuah kitab yang berisi tentang etika mencari ilmu yang sangat populer dikalangan pondok pesantren terutama di pesantren tradisional dan juga sering dijadikan sebagai literatur. Selain membahas tentang etika, kitab Ta’lim Muta’allim juga membahas tentang konsep belajar mengajar yang tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara peserta didik dengan seorang guru. Dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen merupakan pedoman bagi guru dan mengatur secara perinci tentang guru.

Mengenai rumusan masalah yang diteliti adalah bagaimana konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnuji dan bagaimana relevansi antara konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnuji dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Dan tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnuji dan untuk mengetahui relevansi antara konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnuji dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan menggunakan jenis penelitian kepustakaan ( library research ). Jenis penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisis isi buku untuk menghasilkan suatu kesimpulan[2]. Menurut Sugiyono metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti obyek yang alamiah[3]. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan, peneliti menelaah beberapa buku kepustakaan yang relevan dengan judul penelitian ini. Penulis juga menggunakan beberapa langkah dalam penelitian ini, yaitu: a). Penentuan jenis data, b). Penentuan sumber data, c). Mengumpulkan data, dan d). Menganalisis data.

 

  1. B.   KONSEP GURU IDEAL DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
    1. 1.    Pengertian Guru

Definisi guru secara etimologi ialah Pengajar[4]. Jika dilihat dari dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia tidak jauh berbeda mendefinisikan arti guru yaitu Pengajar pada sekolah-sekolah[5]. Akan tetapi kata guru sebenarnya bukan saja mengandung arti “pengajar”, melainkan juga “pendidik”. Selain itu, arti guru juga didefinisikan seperti yang sudah tidak asing lagi ditelinga yaitu guru sebagai seseorang yang digugu dan ditiru.

Sedangkan secara terminologi pengertian tentang guru sesuai yang telah ditetapkan dalam Undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, seperti yang telah dipaparkan didalam  Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada bab 1 pasal 1 ayat 1[6].

 

  1. 2.    Pengertian Guru Menurut Islam

Dalam Islam sendiri, mengartikan guru merupakan profesi yang amat mulia, karena pendidikan adalah salah satu tema sentralnya, Nabi Muhammad sendiri sering disebut sebagai “pendidik kemanusiaan” (educator of mandkind).

Ditinjau dari leteratur kependidikan Islam, seorang guru atau pendidik biasa disebut sebagai berikut :

  1. Ustadz, yaitu julukan untuk orang yang mengajar di madrasah atau pondok pesantren, maksudnya seorang guru dituntut untuk komitmen terhadap profesinya, ia selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntunan zaman.
  2. Mu’allim, berasal dari kata “ ‘ilm ” yang berarti menangkap hakekat sesuatu, ini mengandung makna bahwa guru adalah orang yang dituntut untuk mampu menjelaskan hakekat dalam pengetahuan yang diajarkannya.
  3. Murabbiy, berasal dari kata “ rabb ”. Tuhan sebagai Rabb al-‘âlamin dan Rabb al-nâs yakni yang menciptakan, mengatur dan memelihara alam dan seisinya termasuk manusia. Dilihat dari pengertian ini maka guru adalah orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya.
  4. Mursyid, yaitu seorang guru yang berusaha menularkan penghayatan (Transinternalisasi) akhlak dan atau kepribadian kepada peserta didiknya.
  5. Mudarris, berasal dari kata “ darasa – yudarusu – darsan wa durusan wadirasatun ” yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, melatih dan mempelajari. Artinya seorang guru adalah yang berusaha mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan, serta melatih ketrampilan peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.
  6. Muaddib, berasal dari kata adab, yang berarti moral, etika dan adab. Artinya seorang guru adalah yang beradab sekalugus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas dimasa depan[7].

 

  1. 3.    Konsep Guru Ideal Secara Umum

Konsep guru ideal adalah gambaran seorang guru yang diharapkan oleh peserta didik. Seorang guru harus bisa menjadi ideal bagi peserta didiknya dengan memenuhi beberapa kriteria sebagai seorang guru agar dapat dijadikan suri tauladan bagi peserta didik dan juga dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat dari guru ideal mereka. Untuk menjadi seorang guru yang ideal secara umum haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Syarat utama untuk menjadi seorang guru, yaitu :

  1. Guru harus berijazah,
  2. Guru harus sehat rohani dan jasmani,
  3. Guru harus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkelakuan baik.
  4. Guru haruslah orang yang bertanggung jawab,
  5. Guru di Indonesia harus berjiwa nasional[8].

 

  1. 4.    Konsep Guru Ideal Menurut Islam

Guru memang sosok yang dimuliakan dalam Islam, tetapi kemulian itu akan luntur jika guru tidak mampu menerapkan prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh setiap guru. berikut pandangan tokoh-tokoh terkemuka dalam Islam tentang makna guru dengan segenap dimensinya, yaitu :

 

  1. 1.      Imam al Ghazâlî

Pendidik atau guru sejati (ideal) menurut Imam al Ghazali adalah guru yang Cerdas, Penuh Kasih Sayang, Diniatkan Sebagai Ibadah, Menyesuaikan dengan Kemampuan Murid, Penuh Simpati, Menjadi Teladan, Memahami Kemampuan Murid, dan Memiliki Komitmen Tinggi,

 

  1. 2.      Imam Ibnu Miskawaih

Pendidik atau guru sejati (ideal) menurut Ibnu Miskawaih adalah manusia ideal seperti yang terdapat pada konsepsinya tentang manusia ideal karena beliau menyejajarkan posisi guru dengan posisi nabi, terutama dalam hal cinta kasih. Cinta kasih kepada Allah menempati urutan pertama, barulah cinta kasih murid kepada gurunya. Jika tidak dapat mencapai derajat ini maka dinilai sama dengan teman atau saudara, karena dari mereka itu dapat juga diperoleh ilmu dan adab. Menurut beliau, guru haruslah Bisa Dipercaya, Pandai, Dicintai, Sejarah Hidupnya Jelas Tidak Tercemar di Masyarakat, Menjadi Cermin atau Panutan, dan Harus Lebih Mulia dari orang yang didiknya.

 

  1. 3.      Imam al Mawardi

Pendidik atau guru sejati (ideal) menurut Ibnu al Mawardi adalah orang yang Tawadhu’, Multi Peran, Ikhlas, secara harfiah, Mencintai Pekerjaan Sebagai Guru, Tidak Mengutamakan Ekonomi, Penuh Persiapan, Disiplin, Kreatif Memanfaatkan Waktu Luang, Kreatif, guru harus memiliki daya kreasi dan inovasi yang tinggi.Sadar Diri, Lemah Lembut dan Penuh Kasih Sayang, dan Menjadi Motivator,

 

  1. 4.      Imam Ibnu Sînâ

Menurut beliau guru yang baik (ideal) adalah guru yang Berakal Cerdas, Beragama, Mengetahui Cara Mendidik Akhlak, Cakap Dalam Mendidik Anak, Berpenampilan Tenang, Jauh Dari Olok-Olok dan Main-Main Dihadapan Muridnya, Tidak Bermuka Musam, Sopan Santun, Bersih, dan Suci Murni.

 

  1. 5.      Imam Ibnu Jama’ah

Guru dalam pandangan beliau merupakan mikrokosmos manusia, dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi makhluk terbaik. Maka, derajat guru berada setingkat di bawah derajat para nabi. Secara garis besar, ada enam criteria untuk bisa menjadi seorang guru yang ideal dan dicintai oleh murid. Diantaranya adalah Mampu Menjaga Akhlak Selama Melaksanakan Tugas Pendidikan, Tidak Menjadikan Profesi Guru Sebagai Kegiatan Untuk Menutupi Kebutuhan Ekonomi, Mengetahui Situasi Sosial Kemasyarakatan Dengan Baik, Penuh Kasih Sayang dan Sabar, dan Bersedia Menolong Sesuai Dengan Kemampuan yang Dimiliki.

 

  1. 6.      Imam Ibnu Taimiyah

Guru dalam pandangan Ibnu Taimiyah hendaknya memiliki ciri kepribadian seperti Khulafa’, Misi perjuangan nabi dalam bidang pengajaran. Menjadi panutan, Tidak Main-Main, dan Sering Membaca Kitab Suci,

Demikianlah beberapa pandangan mengenai konsep guru ideal dari para tokoh Islam Klasik yang masih penting direnungkan saat ini dan seterusnya[9].

 

  1. C.  KONSEP GURU IDEAL MENURUT  SYAIKH AL-ZARNÛJÎ DAN RELEVANSINYA DENGAN UNDANG-UNDANG  NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN
    1. 1.        Pemikiran Syaikh al Zarnûjî tentang Konsep Guru Ideal dalam kitab Ta’lim Muta’allim

Adapun konsep guru ideal menurut Syaikh Al Zarnuji yang terdapat didalam kitab Ta’lim Muta’allim[10], yaitu :

a)         Haruslah orang yang lebih alim ( pandai / cerdas ), yaitu seseorang  yang cerdas. Dengan akal yang sempurna atau cerdas, maka guru dapat mengajar muridnya dengan benar dan mendalam.

b)        Bersifat Wara’ ( menjaga harga diri ), guru haruslah menjaga diri dari segala sesuatu yang berbau syubhat agar tetap terjaga keilmuannya dan kepribadiannya.  

c)         Berpengalaman / Lebih tua, guru akan dapat memerankan diri sebagai seorang pemimpin dan pembimbing dalam proses belajar mengajar.

d)        Berbudi luhur, guru haruslah memiliki budi pekerti yang luhur karena budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid.

e)         Bijaksana, guru dapat bertindak tepat menurut garis yang baik, selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya) apabila menghadapi suatu kesulitan.

f)         Penyabar, guru yang selalu menerima segala bencana dengan laku yang sopan, sabar merupakan pangkal keutamaan dalam segala hal.

 

  1. 2.        Konsep Guru Ideal Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

            Adapun konsep guru ideal menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen[11], yaitu :

a)      Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat sebagaimana dijelaskan dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 yang telah menetapkan, bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S-1).

b)      Kompetensi guru, meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi, yaitu : Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Profesional.

c)      Sertifikasi Guru, disebutkan dalam peraturan menteri pendidikan nasional nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi guru pada pasal 1 ayat 1, sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Kemudian disebutkan dalam ayat 2, pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan dapat diikuti oleh guru yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D IV), dan pada ayat 3 menyebutkan bahwa setifikasi guru dalam jabatan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

d)     Sehat Jasmani dan Rohani, dalam penjelasannya yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani disini adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

e)      Memiliki Kemampuan Untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, Kedudukan guru sebagai tenaga professional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sementara itu, kedudukan guru sebagai tenaga professional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 dalam bab II pasal 4 dan 6.

 

  1. 3.    Relevansi Konsep Guru Ideal Menurut Syaikh al Zarnûjî dan UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

Relevansi antara konsep guru ideal menurut Syaikh Al Zarnuji dengan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, yaitu :

  1. Berilmu / memiliki ilmu pengetahuan sama halnya dengan memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik. Berilmu/memiliki ilmu pengetahuan sama halnya dengan memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik yaitu Seseorang guru yang memiliki ilmu pengetahuan pada umumnya memiliki ijazah karena menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau diploma empat (D-4). Dan seseorang memiliki ilmu pengetahuan pastinya ia memiliki kompetensi pedagogik yang dimana seorang guru dituntut untuk membekali dirinya dengan penguasaan materi yang memadai.
  2. Bersifat Wara’, berbudi pekerti luhur, bijaksana dan penyabar berarti telah memiliki salah satu standar kompetensi guru (kompetensi kepribadian). Bersifat Wara’, berbudi pekerti luhur, bijaksana dan penyabar berarti telah memiliki salah satu standar kompetensi guru (kompetensi kepribadian) yaitu Seorang guru yang memiliki kompetensi kepribadian, sesuai dengan kompetensi guru sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 8 Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
  3. Berpengalaman/lebih tua dapat dikatakan telah memiliki kompetensi profesional dan kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Berpengalaman/lebih tua dapat dikatakan telah memiliki kompetensi profesional dan kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu Seorang guru yang berpengalaman tentu memiliki keahlian, dan memiliki kompetensi profesional karena menurut Undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyebutkan bahwa profesional artinya pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

 

  1. D.  PENUTUP

Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnûjî yaitu : (a). Haruslah orang yang lebih alim ( pandai / cerdas ), (b). Bersifat wara’ ( menjaga harga diri ), (c). Berpengalaman / Lebih tua, (d). Berbudi luhur, (e). Bijaksana, dan (f). Penyabar. Dan Relevansi antara konsep guru ideal menurut Syaikh al Zarnûjî dengan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 yaitu 1). Berilmu / memiliki ilmu pengetahuan sama halnya dengan memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik. 2). Bersifat Wara’, berbudi pekerti luhur, bijaksana dan penyabar berarti telah memiliki salah satu standar kompetensi guru (kompetensi kepribadian). 3). Berpengalaman/lebih tua dapat dikatakan telah memiliki kompetensi profesional dan kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

 


[1]Imam Tabroni el-Khalimi, “Proposal Tesis”, http://imam-tabroni.blogspot.com/2012/07/prposal-tesis.html, di akses pada tanggal 5 Mei 2013

[2] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) h. 16

[3] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2012) h. 9

[4] S. Wojowasito, Kamus Bahasa Indonesia EYD Menurut Pedoman Lembaga Bahasa Nasional, h. 114

[5] Ananda Santoso & A.R. Al Hanif, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Alumni) h. 143

[6] Undang-Undang Guru dan Dosen ( UU RI No. 14 Th. 2005 ), (Jakarta: Sinar Grafika, 2011) h. 3

[7] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, ( Surabaya: PSAPM, 2003 ), h. 209-213.

[8] Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) h. 29

[9] Salman Rusydie,Tuntunan Menjadi Guru Favorit, (Jogjakarta: FlashBooks, 2012), h.168-188

[10] Muhammadun Thaifuri, Pedoman Belajar Bagi Penuntun Ilmu Secara Islam (Terjemah Ta’lim Muta’allim ), (Surabaya: Menara Suci,2008 ), h. 25

[11] Undang-Undang Guru dan Dosen ( UU RI No. 14 Th. 2005 ), (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h. 8

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2013 in Uncategorized

 

SYI’IR PADANG BULAN (HABIB SYAIKH)

Allohumma sholli wasallim alaa

Sayidinaa wamaulanaa Muhammadin

Adada maa fii’ilmillahi sholatandaaimatan

Bida waami mulkillahi…. 2x

Padang bulan, padange koyo rino, rembulane

          Sing ngawe-awe… 2x

Ngelengake, ojo turu sore… 2x

Kene tak critani, kanggo sebo mengko sore… 2x

Iki dino, ojo lali lungo ngaji takon marang kyai guru

          Kang pinuji…. 2x

Enggal siro, ora gampang kebujuk syetan

Insya Alloh, kitomenang lan kebejan… 2x

Lamun wong tuwo, lamun wong tuwo keliru mimpine

          Ngalamat bakal,

Ngalamat bakal getun mburine….. 2x

Wong tuwo loro, kundur ing ngarso pangeran

Anak putune rame-rame rebutan warisan….. 2x

Wong tuwo loro ing jero kuburan nyandang susah

          Sebab mirsane putera-

Puterine ora ngibadah dho pecah belah… 2x

Kang den arep-arep yoiku turune rahmat

Jebul kang teko-jebul kang nambahi

Jaman kepungkur ora jaman, jaman bututan

          Esuk-esuk rame-rame

Luru ramalan…. 2x

Gambar kucing dikiro gambar macan

Bengi diputer-bengi diputer metu wong edan… 2x

 

Kurang puas-kurang puas luru lamaran

Wong ora waras-wong ora waras dadi takonan… 2x

Kang ditakoni ngguyu cekakan

Jabul kang takon-jebul kang takon wis ketularan… 2x

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2013 in Uncategorized

 

PERSAHABATAN… PERSAUDARAAN… & CINTA

 

Ku coba tuk berdiri

Bersama sobat sejati

Kau… mengikatkaan tali

Menjadikanku adik bagimu

 

Cinta didalam hati

Tlah diterima olehnya

Persahabatan tetap dia jaga

Persaudaraan slalu kan ku ikat..

 

Reff.

Persahabatan adalah nomor satu

Persaudaraan menjadi bagian hidupku

Dan… cinta akan selalu ada dihatiku

Semuanya ada dan akan tetap ku jaga

 

Tak kan kubiarkan

Dan tak kan kulepaskan

Semua yang telah terjadi

Menjadi tak abadi..

 

Persahabatan antara kau dan dia

Persaudaraan antara aku dan kau

Dan cinta terjadi antara aku dan dia

Persahabatan… persaudaraan…& cinta itu satu

 

 

By. Hay 19 – 2007

(ini entah puisi atau lirik lagu…, terserah yg mmbaca tp awal’y memang dibuat tuk lirik lagu)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 7, 2013 in Uncategorized

 

Dialah Kekasih Allah

Sang utusan tlah hadir
Membawa agama
Menyempurnakan akhlaq
Kepada seluruh umat

Muhammad rosul pilihan
Slalu menjadi panutan
Bagi umat yang inginkan
Tuk mendadat syafa’at

Reff.
Dialah manusia sempurna tiada banding
Manusia yang mulia
Derajatnya diatas segalanya
Cahayanya melebihi purnama

Dialah kekasih Allah
Yang patut kita cintai
Dialah Muhammad rosul Ilahi
Yang patut kita sanjungi

Bersholawatlah kepadanya
Niscaya kau akan mendapatkan
Banyak syafa’at darinya
Dialah kekasih Allah

By. Hay 19 n Friend’s-2008
(lagu ini diciptakan tuk grup Nasyid Bahasa 2 MAN BPC)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 7, 2013 in Uncategorized

 
Galeri

sawah bertutur “I LOVE U”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2013 in Uncategorized

 

A pedal, a waddle and a tootle

Originally posted on Tootlepedal's Blog:

Today’s picture shows Alistair’s eagle in  a less threatening posture.  It does show how clever the jointing is on the model.

crouching eagle

The weather turned out to be very nice today in spite of a not very promising forecast and in the absence of Dropscone on golfing business, I got myself up and organised and pedalled round the morning run after breakfast in lonely splendour.  The wind was a bit stronger than yesterday and had moved very slightly so that it was more of a pest coming back.  However, all was forgiven and forgotten in a glorious rush down the last three and a half miles in just over eight minutes with the full strength of the wind behind me.  I reached my maximum speed for the day (30 mph) on a fairly flat piece of road here rather than down any of the earlier hills.

In the absence of scones…

View original 821 more words

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2013 in Uncategorized

 
  • Pos-pos Terakhir

  • time

  • aktivitas

    Desember 2014
    S S R K J S M
    « Nov    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Arsip

  • Kategori

  • Meta

  • facebook

  • indranurulhayat@gmail.com

    Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.

  • twitterkoe

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • kawan

  • Statistik Blog

    • 3,322 hits
  •  
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.